Kamis, 20 November 2014

JANGAN CUMA JAGO KANDANG

Kampung halaman umumnya selalu jadi tempat terbaik di dunia. Segalanya ada dan semua terasa mudah saat berada di kampung halaman. Zona nyaman yang diciptakannya seakan menjadi magnet yang mempunyai daya tarik begitu kuat, hingga membuat kita sulit untuk berpindah. Disana kita dilahirkan, dimanja, tumbuh dan berkembang di sisi orangtua dan keluarga. Bukan hanya kebahagiaan fisik atau materi yang dapat dirasakan saat berada di kampung halaman, melainkan yang paling penting adalah kebahagiaan jiwa.
Istilah merantau bukanlah hal yang asing lagi di telinga masyarakat. Menurut Wikipedia, merantau adalah perginya seseorang dari tempat ia tumbuh besar ke daerah lain untuk mencari pekerjaan atau pengalaman. Terdapat beberapa etnis yang melakukan aktivitas merantau dalam jumlah yang sangat signifikan, sehingga disebut sebagai suku perantau, yaitu Suku Minangkabau, Suku Bugis-Makassar, Suku Banjar, Suku Madura dan Suku Bawean.
Banyak orang yang tidak memiliki keberanian untuk berpindah atau merantau karena rasa nyaman dan berbagai ketakutan/ hal-hal negatif yang ia ciptakan dan tancapkan sendiri ke dalam pola pikirnya. Untuk apa susah-susah merantau kalau apa yang kita inginkan dan kita butuhkan akan terjamin saat kita berada disamping orangtua? Hal-hal yang kita butuhkan akan diusahakan semaksimal mungkin oleh orangtua. Saat merasa lapar, kita tidak perlu jauh-jauh mencari makan, tidak seperti para perantau yang berusaha mencari sendiri dengan tentunya memperhitungkan kondisi keuangannya. Disaat akhir bulan kita tidak perlu repot-repot membatasi pengeluaran, menghitung secara detail biaya makan dan mengkhawatirkan kondisi ‘kantong’ sebab orangtua ada disamping kita. Saat menderita suatu penyakit, kita tidak perlu memikirkan bagaimana mobilitas untuk ke rumah sakit karena ada orangtua atau keluarga di sekeliling kita, lain halnya dengan perantau yang mengurus segala sesuatunya sendiri.
Namun, ada satu titik dimana kita dihadapkan oleh pertanyaan “Sampai kapan kita akan terus bergantung pada orangtua?” “Haruskah kita berpindah?” Sanggupkah kita meninggalkan zona nyaman itu?”. Jawabannya tergantung pada perspektif masing-masing individu. Bagaimana tiap individu menyikapi dan memahami hal tersebut, termasuk keuntungan dan pasti kerugian bahkan resikonya.
Rantau
Menurut Purdi E. Chandra, keberanian merantau itu perlu kita miliki, karena dengan merantau berarti kita berani meninggalkan lingkungan keluarga. Sebab, ketika kita berada di lingkungan keluarga kita akan tetap dianggap sebagai anak kecil, sekalipun kita sudah tumbuh besar atau dewasa. Sehingga, hal itu tentunya akan membuat kita tergantung dan tidak mandiri yang mengakibatkan kita mudah patah semangat atau putus asa, tidak berani menghadapi tantangan atau resiko. Tingkat ketergantungan kita terhadap orang lain juga akan menjadi semakin tinggi jika “cuma jago kandang”. Bagaimana katak bisa menjadi dewasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri kalo keluar dari tempurung saja ia tidak berani?

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam. Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan”
Sebagai seorang mahasiswi perantau, nasihat dari Imam Syafi’I diatas seakan menjadi cambuk motivasi bagi saya. Saya memutuskan untuk hijrah dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa sejak Agustus 2013, atas dasar niat untuk melanjutkan pendidikan. Mau tidak mau, saya harus siap menghadapi lingkungan baru, budaya baru, serta tantangan yang pastinya tidak sedikit.
Berbagai perbedaan yang saya rasakan mulai dari bahasa, kebiasaan, makanan hingga volume suara. Saya sempat mengalami culture shock saat awal-awal menginjakkan kaki di Bandung, kota yang saya pilih untuk melanjutkan pendidikanku. Culture Shock atau dalam bahasa Indonesia disebut gegar budaya adalah istilah psikologis untuk menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang menghadapi kondisi lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Awalnya, lidah saya terasa sangat asing dengan masakan Sunda yang cenderung asin, sangat asin. Begitu pula dengan volume suara orang Sunda yang begitu lembut, berbanding terbalik dengan orang Sulawesi yang terkesan kasar dimata orang Sunda.
Tidak berhenti sampai disitu, perbedaan lainnya datang dari istilah dalam sehari-hari. Para perantau yang memilih Bandung sebagai kota tujuannya dituntut untuk sedikit demi sedikit bisa berbahasa Sunda, sebab masyarakat kebanyakan tetap menggunakan beberapa bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari seperti “punten”, “nuhun”, “mangga” dan lainnya. Jika ingin naik angkot pun, disarankan untuk menggunakan bahasa atau dialek Sunda agar menghindari hal negatif yang tidak diinginkan. Merantau memang sebuah tantangan!
Semakin lama, saya semakin terbiasa dengan berbagai hal itu. Rasa nyaman perlahan mulai terasa, walaupun tidak senyaman di kampung sendiri. Kerinduan akan kampung halaman atau sering dikenal homesick juga dapat sedikit teratasi berkat peran UKMS (Unit Kegiatan Mahasiswa Sulawesi). Saya belajar banyak hal yaitu tentang aspek sosial dan budaya etnis lain. Bangga karena orang-orang tahu saat saya menyebutkan kata “Palu”, walaupun sebatas dari sisi Palu sebagai ibukota provinsi atau karena kejadian kecelakaan pesawat beberapa tahun silam, bukan dari sisi ciri khas budaya lokalnya. Namun, ada satu hal yang sedikit mengecewakan yaitu minat masyarakat Palu khususnya pelajar dalam hal merantau tergolong masih sedikit. Buktinya saya adalah satu-satunya mahasiswa dari Palu, Sulawesi Tengah di kelas bahkan rasanya di jurusan saya. Sungguh sangat disayangkan.
Merantau memang prinsip hidup. Merantau dapat mengembangkan kualitas dan kapasitas diri agar lebih maksimal menghadapi tantangan zaman. “Jika engkau tinggalkan tempat kelahiranmu, akan engkau temui derajat mulia di tempat yang baru dan engkau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya”. Itulah salah satu cara Imam Syafi’I bersyair. Jangan cuma jago Kandang! Bagaimana engkau bisa menikmati bumi Allah SWT kalau engkau tetap berdiam diri di “kandang”mu? Merantaulah! Anggap itu warna dalam hidup dan cerita untuk cucu-cucumu kelak. Mari kita tekadkan diri kita untuk menjadi seorang perantau. Jangan sampai sepanjang hidup kita, mulai dari lahir sampai mati berada di tempat yang sama. Jadi, apa masih perlu berpikir dua kali untuk merantau? 
PS: tugas akhir di matakuliah Bahasa Indonesia Semester 1. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar